Tuesday, January 31, 2017

Cara Membuat Hidroponik Sistem Tetes

Dekade ini, teknologi bercocok tanam tengah mengalami perkembangan yang pesat. Salah satu teknologi tersebut adalah sistem hidroponik. Sistem cocok tanam tanpa tanah yang menggunakan air sebagai media tanam ini, terbagi menjadi 8 sistem secara umum, yaitu :

  1. Sistem Statis
  2. Sistem Wick
  3. Sistem Run to Waste (siram)
  4. Sistem Water Culture
  5. Sistem Nutrient Film Technique (NFT)
  6. Sistem Ebb and Flow
  7. Sistem Tetes
  8. Sistem Aeroponik

Salah satu sistem hidroponik yang banyak diaplikasikan pada skala industri karena kemudahan operasinya adalah sistem tetes. Sistem tetes (drip irigation) dilakukan dengan memberikan larutan nutrisi secara bertahap, setetes demi setetes sepanjang waktu sehingga memungkinkan tanaman mendapat suplai nutrisi yang cukup dan mencegah terjadinya kebusukan. 

Sistem tetes terbagi menjadi 2 jenis, yakni sistem tetes resirkulasi dan sistem tetes non-resirkulasi. Sistem resirkulasi bekerja dengan cara menggunakan sirkulasi larutan secara berulang. Sistem tetes ini lebih efisien karena tidak ada nutrisi berlebih yang akan terbuang. Namun, sistem resirkulasi memerlukan pengaturan pH yang baik karena setelah berulang beberapa siklus putaran, pH larutan nutrisi akan berubah.

Sistem Resirkulasi
Sedangkan pada sistem kedua, sistem non-resirkulasi bekerja dengan mengalirkan nutrisi kepada tanaman tanpa penggunaan berulang. Sisa nutrisi berlebih akan dibuang ke penampungan dibawah pot, tetapi biasanya cairan nutrisi yang terbuang sangat sedikit. Sistem non-resirkulasi membutuhkan timer yang lebih presisi untuk memastikan tanaman akan mendapatkan cukup larutan nutrisi.

Sistem Non Resirkulasi
Pembuatan alat pada sistem tetes membutuhkan biaya yang relatif sedikit. Bagaimana cara pembuatannya?

  • Siapkan peralatan berupa drip emitter, selang inlet ± 5 mm, pipa  PVC atau selang PE (1/2 " atau 3/4”, untuk skala kecil, atau 2”-3“ untuk skala besar), disc filter, pompa, pot/polybag yang berisi tanaman, timer dan wadah penampung nutrisi. Selang inlet dan drip emitter berfungsi sebagai pengalir nutrisi dari pipa ke akar tanaman. Pada polybag/pot, pastikan bagian bawah wadah sudah diberi lubang untuk mengalirkan sisa nutrisi berlebih. 
  • Pasang pipa pengalir nutrisi di sekitar pot/polybag tanaman. Panjang pipa yang digunakan disesuaikan dengan kebutuhan.
  • Hubungkan pipa nutrisi ini dengan pompa dan wadah penampung nutrisi pada satu sisi serta dengan dripper pada sisi satunya. Daya pompa yang dipakai disesuaikan dengan kebutuhan. Perhatikan pula beberapa varibel saat memilih pompa yang akan digunakan, seperti selisih ketinggian antara wadah penampung nutrisi dan tanaman pada pot, debit keluaran maksimum pompa, serta ukuran sistem drip. 
  • Pasang disc filter pada pipa yang berfungsi untuk mencegah terjadinya penyumbatan aliran nutrisi. Filter ini dipasang setelah saluran output pompa.
  • Untuk membuat sistem resirkulasi, pasang saluran balik dari bagian bawah pot/polybag menuju ke wadah penampungan nutrisi. Sedangkan untuk membuat sistem non-resirkulasi, cukup letakan penampung pada bagian bawah pot/polybag untuk menampung kelebihan cairan nutrisi.  
  • Lakukan uji coba dengan air biasa. Tempatkan gelas ukur pada ujung driper untuk mengukur volume keluaran air. Lakukan pengukuran jumlah air yang mengalir selama waktu tertentu.
  • Atur laju aliran air sesuai dengan kebutuhan nutrisi tanaman. Pasangkan timer untuk mengatur kapan dan jeda/frekuensi pemberian tetesan nutrisi.
  • Sistem tetes hidroponik sudah dapat dipasang pada tanaman. Peralatan pada sistem ini perlu dicek secara berkala agar kebutuhan nutrisi yang dialirkan sesuai dengan kebutuhan tanaman, serta akan mudah diatasi jika terjadi suatu kendala.
Video Hidroponik Sistem Tetes

0 comments:

Post a Comment

    Text Widget

    Followers